phone: +62 812 1250 2007
e-mail: sgc86mb@gmail.com
Showing posts with label biker. Show all posts

Anniversary SGC 86 MB 1 Dekade


Tugu Bikers Indonesia

Tugu Bikers Indonesia Pertama Ada di Padang

PADANG - Kota Padang kembali menjadi kota pertama sebagai pencatat sejarah. Sebelumnya, Padang menjadi daerah pertemuan sejumlah negara yang berada di sepanjang Samudera Hindia atau dikenal dengan Indian Ocean Rim Association (IORA). Kini, Padang kembali mencatatkan diri sebagai daerah pertama yang mendirikan tugu biker di Indonesia.

Tugu Bikers Indonesia ini akan berdiri kokoh di Pantai Padang. Seremonial peletakan batu pertama pembangunan tugu ini dilakukan Sabtu (7/5). Seiring dengan rangkaian acara Jambore Nasional Honda CBR yang digelar 6-8 Mei 2016 lalu.

Tugu ini merupakan monumen yang didedikasikan bagi para biker di seluruh Indonesia. Meski ide dibangunnya tugu ini dari komunitas CBR Sumatera Barat, akan tetapi tugu tersebut bukan milik komunitas tertentu saja. Akan tetapi milik semua biker.

"Ini akan jadi tugunya biker Indonesia. Ini bukan milik Honda CBR, tapi milik semua komunitas sepeda motor di Indonesia tanpa kecuali,” ujar Muhammad Kadhafi Mukrom, Ketua Umum Nasional Asosiasi Honda CBR (AHC).

Selain titik nol kilometer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, tugu biker ini akan menjadi destinasi baru di Pulau Sumatera. Bukan hanya sekedar datang meresmikan peletakan batu pertama, pembangunan tugu ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Padang.

Walikota Padang, H. Mahyeldi Dt Marajo menyebut bahwa Pemko Padang akan mengeluarkan sertifikat kepada biker yang datang ke Padang untuk mengunjungi tugu tersebut.

“Setiap biker yang datang ke sini, akan mendapatkan sertifikat yang ditandatangani oleh Walikota. Kami siap menyambut kedatangan para biker dari seluruh Indonesia untuk datang ke sini, apalagi jika mereka membawa misi positif, seperti kunjungan ke panti asuhan atau kegiatan sosial lainnnya," kata Mahyeldi.(Charlie)




Jiwa muda

ini kisah tentang bikers dikala usia lanjut ternyata umur tidak bisa membatasi diri untuk memiliki jiwa bikers.

Gadis Muda Pecinta Yang Tua

Jakarta - Saat ini, di jalanan mata kita sudah terbiasa melihat wanita menggunakan motor skutik atau motor keluaran baru. Tapi motor jadul? Tunggu dulu, sangat jarang.

Memiliki kendaraan tua namun masih mampu diajak jalan jauh, memang suatu kebanggaan tersendiri. Terlebih lagi yang mengendarai seorang perempuan.

Hal inilah yang menjadi alasan Nevia Senja (22), untuk tetap mengendarai motor Jerman DKW Junior 125 cc.

"Kalau memakai motor tua itu, pasti lebih berkharisma. Terlebih lagi jarang sekali seorang cewe, mau mengendarai kendaraan tua seperti ini," ucap nevia.

Memang anggota wanita satu-satunya dari Brotherhood Chapter Jakarta ini, juga mengakui betapa susahnya di saat motor sedang ngadat.

"Untuk mendapatkan motor 2 Tak DKW Junior 125cc ini, saya harus rela menabung uang saya. Tapi tidaklah mengapa karena saya sangat suka dengan motor tua, dan rencananya saya mau mengganti motor saya dengan motor Norton 350cc tahun 1956," ucap gadis bertato ini.

Dara cantik ini juga mengaku, sangat senang bisa bergabung dengan Brotherhood semenjak tahun 2007.

"Di sini itu sangat kental persaudaraannya, bahkan hubungannya melebihi saudara sendiri. Dan saya tidak pernah merasa takut berada disini, karena di sini banyak saudara saya. Terlebih lagi berada dalam brother itu tidak membedakan satu sama lain, semua yang berada di sini itu sama," kata anak semata wayang ini.

Saat ditanya bagaimana harapannya terhadap brotherhood, dara muda yang baru lulus kuliah ini pun menjawab dengan tegas. "Semua harapan saya sudah terwujud. Dan lagi pula Brotherhood itu sudah besar," tutup dara ini sambil tersenyum.

Nevia Senja: Cewe Gaul, Pecinta Motor Jadul

JAKARTA RIMANEWS — Hobi tidak mengenal jenis kelamin. Itulah yang terdapat pada gadis muda bernama Nevia Senja, pecinta sepeda motor tua. Wajah cantiknya mampu menarik perhatian banyak orang ketika ia menunggangi motor tua kesayangannya.
Berpenampilan layaknya seorang biker, gadis berkulit kuning langsat dan berambut panjang ini mulai mengendarai motor sejak usia 15 tahun. Saat itu Senja masih berstatus sebagai pelajar SMP. “Aku diajarin temanku naik motor.” Ujarnya.
Sejak itu wanita kelahiran Jakarta 21 tahun lalu mulai menyukai sepeda motor. Kemana ia pergi selalu dengan sepeda motor yang dipinjam dari temannya.
Namun kecintaannya dengan sepeda motor tua berawal saat dia menduduki bangku SMA. Ketika itu sang pacar adalah anggota MACI (Motor Antique Club Indonesia) Bogor, yang selalu memboncengi Senja saat jalan dengan sepeda motor tuanya.
Motor pertamanya Triumph Tiger Cub tahun 1961. Namun sang motor lebih sering ngadat, dan akhirnya bertemu dengan DWK lansiran tahun 1955, yang kini selalu menemani kemana dia melangkah.
Untuk urusan perawatan sepeda motor tua, Senja melakukan sendiri.  Membersihkan busi, karburator, hingga tali kopling putus menjadi hal yang biasa dilakukan. Maka tak heran jika banyak orang terpukau saat melihat dia memperbaiki motor tuanya yang sedang ngadat atau saat mengendarainya.
“Aku sangat menikmati semua ini. Naik motor tua, walaupun terlihat urakan tapi berkharisma.” Bangga gadis lulusan Universitas Trisakti jurusan Manajemen Hospitality tahun 2010. Senja juga ingin membuktikan bahwa wanita pun mampu melakukan pekerjaan laki-laki.
Kecintaannya dengan motor tua disalurkan dengan bergabung di Bikers Brotherhood Motorcycle Club (BBMC) Chapter Jakarta pada tahun 2008, Komunitas pecinta sepeda motor tua yang berpusat di kota Bandung.
Gadis bertato ini selalu aktif di setiap kegiatan BBMC Jakarta maupun pusat. Untuk touring, perempuan yang juga hobi nge-band ini pernah menjelajahi Linggar Jati, lalu ke Bali dengan BSA sidevalpe tahun 2009 silam. Karena aktivitas tinggi itu, kini statusnya di BBMC adalah Virgin menuju life members kasta tertinggi di komunitas ini.
Keluarga pun memberi kepercayaan penuh akan hobinya yang terbilang nyentrik. “Dengan motor tua, serta BBMC, semua terasa Indah,” Tutur Senja. Dan dia pun berkeinginan sekali bisa keliling Indonesia, lihat budaya, dan keindahan Nusantara tentunya dengan mengendarai DWK R125 tahun 1955 miliknya. (Ach/DP)